Belanda Dorong Pemuda Indonesia Raih Beasiswa
22 Jul 2008
Belanda Dorong Pemuda Indonesia Raih Beasiswa Jakarta – Suasana keakraban langsung terasa saat memasuki kantor Netherlands Education Support Office (NESO). Lembaga yang memberikan bantuan bagi warga Indonesia yang ingin kuliah di Belanda itu terasa nyaman. “Kapan berangkat?” sapa staf NESO kepada seorang gadis berkerudung, penerima beasiswa, dengan ramah.
Pemerintah Belanda mendorong pemuda Indonesia untuk meraih gelar
dari universitas-universitas di negerinya. Bukan saja pemuda
Indonesia, namun seluruh dunia. Karena dalam sistem pendidikannya,
pemerintah Belanda menggalakkan multikulturalisme.
Namun bagi pelajar Indonesia, lebih banyak kesempatan untuk
melanjutkan pendidikan tanpa biaya alias gratis. Banyak beasiswa
ditawarkan. Mulai dari pemerintah Belanda sendiri, universitas
bersangkutan bahkan Uni Eropa. Selain beasiswa StuNed (Studeren in
Netherland/belajar di Belanda), ada pula beasiswa Netherlands
Fellowship Programme (NFP), Huygens serta Indonesia's Young Leaders
Program. Beasiswa-beasiswa tersebut ditujukan untuk mahasiswa S1
tingkat akhir atau untuk meraih master.
Sementara itu, bagi lulusan sekolah menengah atas, bisa mencari
beasiswa dari Universitas Utrecht, Universitas Webster, Leiden atau
Universitas Amsterdam. Informasi beasiswa dapat dilihat di situs
www.grantfinder.nl. Kamis (3/7), secara simbolis diberangkatkan 165
calon mahasiswa penerima beasiswa StuNed.
Tahun depan merupakan tahun terakhir dari kerangka kerja sama
bantuan pendidikan periode 2005-2009. Menurut Duta Besar Indonesia
untuk Belanda, Nikolaos van Dam, kerja sama pendidikan itu akan
diperpanjang dengan periode 2010-2015 saat kunjungan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono ke Belanda yang direncanakan awal tahun 2009.
Direktur NESO, Marrik Bellen, mengatakan lembaganya tidak hanya
menawarkan beasiswa dan bantuan bagi calon mahasiswa yang ingin
belajar ke Belanda, tetapi juga menjembatani universitas-universitas
Indonesia yang ingin bekerja sama dengan universitas-universitas
Belanda. Bahkan dia kini juga berupaya menggiatkan minat generasi
muda Belanda untuk belajar di Indonesia.
“Kami akan membangun situs, belajar ke Indonesia. Saat ini dalam
proses pengumpulan data universitas di Indonesia yang memberikan
kuliah dalam bahasa Inggris,” ungkap direktur yang sudah setahun
bertugas di Indonesia. NESO juga membantu universitas-universitas di
Indonesia untuk go international.
Upaya-upaya NESO untuk meningkatkan minat warga Indonesia belajar di
Belanda antara lain juga dengan memberikan kursus bahasa Inggris
bagi penerima beasiswa terutama dari luar Jawa.
“Berkat kursus empat bulan tersebut, jumlah pelamar beasiswa dari
luar Jawa meningkat menjadi 43 persen,” ungkap Monique Drenthem
Soesman, kepala departemen beasiswa NESO.
Kurang Jurnalis
NESO masih berupaya menambah jumlah pelamar dari kalangan jurnalis.
Untuk itu, Bellen mengatakan akan mengunjungi media massa Indonesia
guna mempromosikannya. Menurut Bellen, kendalanya antara lain bahasa
Inggris serta kebijakan kantor masing-masing.
“Karena untuk menerima beasiswa, pelamar harus dijamin tetap
mendapatkan gaji dari perusahaan masing-masing selama pendidikan dan
tetap bekerja setelah selesai,” kata pria yang sebelumnya bertugas
di Beijing.
Sementara itu. Amar Ma'ruf, penerima beasiswa asal Kendari, Sulawesi
Tenggara, mengakui keunggulan dari universitas-universitas di
Belanda.
“Mereka lebih banyak aplikasi ketimbang teori,” kata pemuda Direktur
Program Masyarakat Transnasional Pacivis yang pernah mengenyam
kursus singkat di Universitas Utrecht, juga dengan beasiswa.
Amar sangat mendorong pemuda-pemudi Indonesia mengambil kesempatan
belajar di Belanda. Selain letaknya di Eropa, yang memudahkan
bepergian ke negara-negara sekitar, mahasiswa juga bisa menambah
uang saku dengan menerima pekerjaan-pekerjaan ringan.
“Daripada kursus singkat, lebih baik langsung master saja,” ajaknya
kepada SH. (natalia santi)
Source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/08/lua08.html