Lemkowitz: Keberlanjutan Tak Bisa Dicapai Hanya dengan Teknologi
19 May 2008
Delft - Sustainability (keberlanjutan) tidak bisa dicapai hanya dengan teknologi, melainkan harus lintas disiplin. Pelajar, profesional dan pengambil kebijakan harus berpikir kritis. Demikian benang merah dari kuliah Prof. Dr. ir. Saul Lemkowitz selaku pembicara kunci pada perhelatan ilmiah pelajar dan profesional Indonesian Students' Scientific Meeting 2008 (ISSM 2008) di Delft University of Technology (TU Delft), 13-15 Mei 2008 bertema Sustainable Development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach.
ISSM 2008 ini sekaligus memperingati 100th Kebangkitan
Nasional, diselenggarakan oleh Institute for Science and Technology Studies
(Istecs) Chapter Netherlands dan EU, PPI Delft serta PPI
Wageningen, bekerjasama dengan TU Delft, CICAT, SNC dan KBRI Den Haag.
Menurut Lemkowitz, tehnologi memang esensial untuk mengatasi isu keberlanjutan
planet bumi, namun teknologi saja tidak mencukupi. "Pendekatan lintas
disiplin mutlak diperlukan," tegas Lemkowitz, yang menyampaikan kuliah
berjudul How 'Sustainable' is Modern Civilization?
Untuk mendukung pernyataannya tersebut, Lemkowitz menyodorkan tiga model yakni
model IPAT, model Kuznetz, dan model Sistem Kebijakan Multidisipliner (Allenby,
1998).
Dalam model IPAT dijelaskan mengenai dampak pada lingkungan (I), populasi (P),
kesejahteraan (A), dan teknologi (T). Apakah kekuatan penentu
ketidakberlanjutan (P meningkat, A lebih besar) telah dikompensasi oleh
kemajuan teknologi?
Ditunjukkan bahwa penggunaan energi dalam waktu sekitar 500 tahun terakhir
meningkat pesat dari 0 hingga mendekati 2x1014 kWHr/tahun saat ini.
Konsentrasi CO2 (karbodioksida) di atmosfir melesat sampai 384 ppm (tahun ini).
Konsentrasi CH4 (metana) di atmosfir juga meningkat, dari sejak tahun 250.000
SM sampai 1800 hanya pada kisaran 700 ppbv, kini meningkat menjadi 1.750 ppbv.
Perubahan konsentrasi CO2 dan temperatur, mengakibatkan temperatur terus naik.
Kerusakan lainnya adalah kemusnahan habitat. Perkiraan jumlah kemusnahan
spesies dalam rentang tahun 1900-2000 terus melesat hingga mencapai hampir
100.000 per tahun saat ini.
Dari model IPAT itu jelas bahwa ternyata pertumbuhan populasi dan kesejahteraan
yang meningkat pesat tidak dikompensasi oleh kemajuan teknologi. Hasilnya,
kerusakan lingkungan secara substansial alias terjadi proses ketidakberlanjutan.
Tanda-tadanya: perubahan iklim (pemanasan global), kemusnahan spesies dan
keanekaragaman hayati secara massal, pengurasan sumber-sumber tak terbarui
(energi fosil), dan terjadi kelangkaan air, ikan laut, dan tanah subur.
Pesimis?
Jadi bagaimana keberlanjutan dunia di masa depan? Bisa optimistis, bisa juga
pesimistis. Model Kuznetz bisa membuka optimisme, menunjukkan hubungan tingkat
tekanan atau beban lingkungan dengan tingkat pembangunan ekonomi
(kesejahteraan).
Menurut hipotesis Kuznetz, seperti ditunjukkan kurva Kuznetz, pada tahap awal
pembangunan beban lingkungan akan naik tajam, namun pada tahap berikutnya akan
menurun seiring dengan kesejahteraan masyarakat yang meningkat. Singkatnya,
semakin sejahtera suatu masyarakat, semakin tinggi tuntutan kualitas hidup.
Artinya, akan ada upaya mengatasi polusi.
Contohnya Inggris. Pada periode setelah terjadi revolusi industri hingga abad
19, konsentrasi sulfurdioksida di London
mendekati 1000 microgram/m3 dan asap mendekati 500 microgram/m3. Setelah
Inggris sejahtera, tuntutan kualitas hidup pun meningkat, lalu terjadilah
pengendalian polusi. Per tahun 2000 polusi sulfurdioksida dan asap itu
mendekati nol.
Dunia yang lebih berkelanjutan bisa saja dicapai, kata Lemkowitz, dengan
memanfaatkan model IPAT, model Kuznetz dan dengan menggunakan pendekatan lintas
disiplin alias kebijakan sistem.
Source: http://detik.com